Peradangan Mata Dapat Menyebabkan Kebutaan, Apa Jenis Penyakitnya?

Teman Mata pasti pernah mengalami mata merah, iritasi, bengkak, tidak nyaman, sampai nyeri. Biasanya, gejala seperti ini terjadi karena adanya inflamasi atau peradangan yang sedang terjadi di mata.

Meskipun banyak peradangan yang dapat disembuhkan dengan mudah, namun Teman Mata harus waspada, ya. Ada beberapa jenis peradangan mata yang menyebabkan kebutaan secara permanen.

Lalu, benarkah peradangan mata menyebabkan kebutaan dan bagaimana cara mencegahnya? Yuk kita bahas bersama!

Mengapa Peradangan Mata Menyebabkan Kebutaan?

Alasan peradangan menyebabkan mata buta

Peradangan merupakan respon tubuh ketika ada cedera, infeksi, atau iritasi akibat bakteri, virus, jamur, maupun alergen. Inflamasi ini dapat bersifat ringan hingga berat, tergantung jenis peradangan yang diderita.

Adapun jenis peradangan di mata antara lain uveitis, keratitis, konjungtivitis, dan penyakit mata tiroid. Nah, uveitis termasuk salah satu jenis peradangan kronis pada mata yang bisa menyebabkan kebutaan.

Uveitis merupakan peradangan yang terjadi pada lapisan tengah mata atau uvea. Ketika menderita penyakit ini, pasien dapat terinfeksi di salah satu atau beberapa area mata sekaligus.

Di Amerika Serikat, 10% kasus kebutaan terjadi atau berkaitan dengan uveitis. Penyakit ini bisa menjadi komplikasi hingga pasien mengalami kebutaan secara permanen.

Komplikasi dapat muncul karena uveitis bisa memicu penyakit lain, contohnya katarak, edema makula kistoid, ablasi retina, glaukoma, hingga kerusakan saraf optik.

Jenis-Jenis Uveitis Berdasarkan Lokasi Peradangan

Jenis-jenis uveitis

Berdasarkan lokasi peradangannya, uveitis dapat dibagi menjadi empat jenis yaitu:

1. Uveitis Anterior

Uveitis anterior merupakan peradangan pada bagian depan mata, yaitu di antara bagian belakang kornea dan di depan lensa. Penyakit merupakan bentuk uveitis paling umum yang paling sering terjadi.

Penyakit ini merupakan jenis uveitis yang paling umum terjadi atau sekitar 30-90% kasus uveitis di seluruh dunia. Walaupun begitu, kondisi ini biasanya terjadi secara cepat dan berlangsung kurang dari enam minggu.

Pasien yang menderita uveitis anterior akan mengalami beberapa gejala meliputi nyeri mata, penglihatan kabur, mata merah, dan sensitif terhadap cahaya. Kondisi ini dapat terjadi pada satu maupun kedua mata sekaligus.

2. Uveitis Intermediet

Uveitis intermediet adalah peradangan intra-okular yang memengaruhi gel di bagian tengah mata dan di belakang lensa atau vitreus. Nama lain dari uveitis intermediet adalah siklitis, vitritis, dan pars planitis.

Jenis uveitis ini sebenarnya paling jarang terjadi pada dewasa muda dan hanya mencakup 1-12% kasus saja. Selain itu, pasien yang menderita penyakit tipe ini sering tidak mengalami rasa sakit.

Biasanya, mereka hanya mengalami beberapa gejala yang terlihat ringan, seperti penglihatan kabur dan bintik-bintik mengambang (floaters). Namun, orang dengan uveitis intermediet lebih mungkin mengalami peradangan kronis dan dapat berlangsung lebih dari enam minggu.

3. Uveitis Posterior

Uveitis posterior merupakan peradangan yang terjadi pada bagian belakang maya, terutama retina dan saraf optik. Kondisi ini juga sering disebut sebagai retinitis maupun koroiditis.

Kasus uveitis posterior merupakan salah satu kategori uveitis yang cukup umum ditemui, yakni sekitar 5-30% dari seluruh kasus. Sayangnya, penyakit ini hanya bisa dideteksi lewat pemeriksaan mata.

Masalah ini bersifat kronis, bahkan dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun dan memengaruhi kedua mata. Apabila tidak ditangani dengan tepat, uveitis posterior dapat mengambil penglihatan penderitanya.

4. Panuveitis

Panuveitis adalah peradangan yang memengaruhi seluruh uvea atau dalam artian lain terjadi pada area anterior, intermediet, dan posterior. Ragam uveitis ini termasuk sangat jarang terjadi, yakni sekitar 1-9% dari keseluruhan kasus uveitis.

Meskipun demikian, penderita panuveitis lebih berpeluang mengalami kehilangan penglihatan. Gejala masalah ini antara lain adanya floater, penglihatan kabur, hingga kehilangan penglihatan.

Gejala yang Harus Diwaspadai

Ada beberapa gejala umum yang dapat terjadi di salah satu maupun kedua mata, yaitu:

  • Nyeri mata, terutama ketika terasa memburuk saat membaca
  • Mata merah atau berair
  • Penglihatan berkurang atau kabur
  • Terlalu sensitif terhadap cahaya
  • Ada cahaya di sudut mata atau bintik hitam
  • Ada bintik melayang atau floaters.

Di beberapa kasus, ada beberapa gejala lebih spesifik, misalnya:

  • Bentuk pupil yang berubah
  • Terdapat cairan putih menggenang di bagian bawah mata
  • Ada bagian yang hilang dalam penglihatan.

Gejala yang sudah MiBost tulis dapat terjadi pada pasien uveitis anterior, intermediet, maupun posterior. Ketika ada beberapa gejala yang muncul, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter ya, terutama dokter spesialis mata.

Uveitis, Peradangan Mata

Penyebab dan Cara Mengatasi Uveitis

Selain mengetahui gejalanya, Teman Mata sekarang harus tahu penyebab dan cara mengatasi uveitis berikut.

Penyebab Uveitis

Uveitis dapat terjadi karena berbagai alasan, namun yang paling umum adalah karena infeksi, cedera, obat-obatan, dan penyakit lainnya.

1. Infeksi

Ketika kuman atau patogen masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan kerusakan, pasien dapat mengalami uveitis karena infeksi. Beberapa patogen yang dapat menyebabkan uveitis adalah:

  • Virus yang terdiri dari virus herpes simpleks (HSV), virus varicella-zoster, dan virus sitomegalovirus (CMV).
  • Bakteri, yaitu spesies yang menjadi penyebab sifilis dan tuberkulosis. 
  • Jamur yang dapat menyebabkan uveitis adalah jenis Candida dan Aspergillus.
  • Parasit, termasuk yang menybeabkan toksoplasmosis, toksokariasis, dan sistiserkosis.

2. Cedera

Cedera di bagian mata dapat merusak otot atau pembuluh darah yang membentuk berbagai area uvea. Saat mengalami cedera, sistem kekebalan tubuh akan menggunakan peradangan sebagai bagian dari proses perbaikan.

Jadi, tidak hanya cedera karena kecelakaan saja yang dapat menyebabkan uveitis, tetapi juga cedera yang disengaja, seperti melakukan operasi mata. Hal ini dapat terjadi karena perubahan kecil pada struktur mata komplikasinya dapat menyebabkan gejala uveitis.

3. Obat-obatan

Mengonsumsi atau menggunakan obat jenis tertentu juga dapat meningkatkan risiko terkena uveitis. Berikut daftar obat-obatnya:

  • Cidofovir
  • Rifabutin
  • Bifosfonat
  • Tetes mata Brimonidin.
  • Inhibitor tirosin kinase.

4. Penyakit Lainnya

Uveitis tidak selalu disebabkan karena sesuatu yang hanya memengaruhi mata, seperti infeksi maupun cedera. Dalam beberapa kasus, pasien dapat menderita uveitis karena adanya kondisi atau penyakit tertentu yang memicu inflamasi.

Umumnya, uveitis yang terjadi karena penyakit lainnya terjadi di kedua mata secara bersamaan. Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan uveitis yaitu:

  • Penyakit radang usus (IBD)
  • Sarkoidosis
  • Penyakit Behcet
  • Lupus, khususnya lupus eritematosus sistemik
  • Nefritis tubulo-interstisial (TINU)
  • Artritis idiopatik juvenil
  • Spondilitis ankilosa
  • Artritis psoriatis
  • Spondiloartritis aksial
  • Artritis enteropatik
  • Artritis reaktif.

Cara Mengatasi Uveitis

Pengobatan untuk uveitis sangat bervariasi, tergantung pada jenis, keparahan, dan kondisi medis dari pasien. Tetapi, ada beberapa perawatan umum yang dapat dilakukan dokter, yaitu:

  • Memberikan obat yang mengurangi peradangan yang biasanya diresepkan dalam bentuk obat tetes mata dan obat anti-inflamasi, seperti kortikosteroid. Terkadang, dokter juga memberikan suntikan di dalam atau sekitar mata maupun obat tablet apabila diperlukan,
  • Mengendalikan kejang sekaligus pada mata dengan menggunakan obat-obatan, terutama sikloplegik yang mencegah spasme berupa kedutan atau kedipan tidak terkontrol pada bagian mata,
  • Mengurangi peradangan dengan memberikan obat-obatan seperti steroid dan obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID) untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan akibat uveitis,
  • Meresepkan obat yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh pada kasus tertentu. Biasanya, cara ini akan dilakukan apabila uveitis memengaruhi kedua mata, tidak merespons obat kortikosteroid dengan baik, atau kondisi memburuk hingga mengancam penglihatan,
  • Memberikan perawatan khusus untuk kondisi tertentu dengan cara mengonsumsi obat anti-virus untuk kasus uveitis tertentu.

Tips Menjaga Mata Tetap Sehat dengan Eyebost

Nah, sekarang Teman Mata sudah lebih paham, kan, kalau uveitis termasuk salah satu penyakit yang berbahaya untuk penglihatan? Meskipun uveitis tidak dapat dicegah, namun ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya penyakit ini.

Langkah pertama yang bisa Teman Mata lakukan adalah melakukan pemeriksaan mata secara teratur setiap 1-2 tahun sekali. Cara ini berguna untuk mendeteksi kemungkinan adanya masalah mata sejak dini.

Selanjutnya, Teman Mata jangan lupa untuk selalu menggunakan pelindung mata, terutama ketika sedang beraktivitas berat. Kamu harus ingat, kalau salah satu penyebab uveitis adalah akibat cedera mata.

Terakhir, agar mata sehat secara keseluruhan, nutrisi untuk mata tercukupi, ya. Kamu bisa mengonsumsi berbagai sumber makanan yang baik untuk mata, seperti wortel, buah-buahan, ubi-ubian, hingga hati sapi.

Buat perlindungan ekstra, Teman Mata bisa mengonsumsi suplemen mata Eyebost untuk menjaga kesehatan mata secara keseluruhan. Eyebost mengandung berbagai nutrisi penting untuk mata, seperti vitamin A, C, E, lutein, dan zeaxanthin dari bahan alami.

Untuk Eyebost Essential, suplemen ini dapat dikonsumsi secara rutin mulai usia 2 tahun sementara Eyebost Essential Pro bisa diminum anak-anak minimal 12 tahun.

Yuk lihat dunia lebih jernih bareng Eyebost!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top
Yuk pesan eyebost sekarang di eyebost.id agar mata makin sehat dan jernih
//
CS Anggie
Online
|
//
Konsultasi