Apa yang terlintas di benakmu kalau mendengar soal buta warna? Banyak orang yang mengira kalau buta warna berarti pasien tidak bisa membedakan warna apapun. Padahal, tidak semua penderita buta warna nggak bisa melihat warna, lho.
Biar kamu nggak salah paham lagi, MiBost bakal jelasin soal definisi, gejala, dan jenis buta warna. Selain itu, MiBost bakal memperkenalkan beberapa jenis terapi buta warna yang biasa dilakukan.
Yuk cari tahu lebih dalam soal buta warna di artikel ini!
Gejala Buta Warna Umum

Gejala utama dari buta warna adalah tidak dapat melihat warna secara penuh. Namun, sebagian besar pasien gejalanya lebih samar, seperti mengalami perubahan pada penglihatan.
Contohnya, pasien sulit membedakan warna merah dan hijau yang ada pada lampu lalu lintas. Warna-warna yang sekarang dilihat terlihat kurang cerah daripada sebelumnya. Selain itu, nuansa warna yang sebelumnya berbeda menjadi terlihat sama.
Buta warna seringkali terdeteksi pada anak usia dini saat anak-anak sedang belajar mengenali warna. Pada beberapa orang, kondisi ini terkadang tidak terdeteksi karena mereka telah belajar mengasosiasikan warna dengan objek tertentu.
Sayangnya, terkadang ada juga yang mengalami gejala buta warna sangat ringan. Akhirnya, pasien tidak menyadari kalau mereka tidak bisa melihat warna tertentu. Jadi, Teman Mata disarankan untuk melakukan cek mata ke dokter spesialis mata secara rutin.
Jenis Buta Warna

Secara umum, ada empat jenis buta warna yang dapat terjadi, yaitu:
1. Defisiensi Warna Kuning-Biru
Buta warna kuning-biru terjadi ketika sel kerucut biru hilang atau tidak berfungsi dengan benar. Penderita buta warna jenis ini umumnya mengalami dua sub-tipe ini yakni tritanopia dan tritanomali.
Tritanopia merupakan ketika buta warna kuning-biru yang terjadi akibat retina kekurangan sel kerucut biru. Hasilnya, pasien tidak akan bisa melihat warna biru. Rata-rata mereka akan melihat warna merah, merah muda, atau lavender.
Sementara itu, tritanomali adalah keadaan ketika kerucut yang peka dengan warna biru tidak berfungsi sepenuhnya. Warna biru yang ada akan terlihat warna hijau dan sulit melihat warna kuning.
2. Defisiensi Warna Merah-Hijau
Teman Mata sudah tahu belum, kalau buta warna merah-hijau adalah salah satu jenis gangguan yang paling umum ditemui? Sub-tipe dari kondisi ini terbagi menjadi empat yaitu protanomali, deuteranomali, protanopia, dan deuteranopia.
Protanomali terjadi ketika kerucut peka warna merah kurang berfungsi dengan baik. Hasilnya, warna merah akan tampak seperti abu-abu gelap. Selain itu, setiap warna yang mengandung merah akan tampak kurang terang.
Untuk pasien deuteranomali, sel kerucut peka warna hijau tidak berfungsi dengan baik. Pasien dengan sub-tipe ini tetap dapat melihat warna hijau. Namun, warnanya terlihat kurang jelas, pudar, dan sering tertukar dengan warna lain saat kondisi cahaya tertentu.
Sementara itu, protanopia merupakan kondisi ketika seseorang tidak memiliki kerucut sensor warna merah. Gangguan ini membuat penderitanya tidak bisa melihat warna merah sama sekali. Mereka akan melihat warna merah seperti gradasi biru atau emas.
Terakhir, pasien dengan deuteranopia tidak memiliki sel kerucut yang peka warna hijau. Penderita kelainan ini akan melihat warna hijau sebagai biru dan emas. Selain itu, mereka akan kesulitan membedakan warna merah, hijau, dan kuning.
3. Monokromasi Kerucut Biru
Monokromasi kerucut biru adalah gangguan penglihatan warna paling langka di dunia. Orang dengan kondisi ini kehilangan sel kerucut peka warna hijau dan merah sekaligus. Hasilnya, pasien akan kesulitan untuk membedakan warna apapun.
Dalam penglihatan mereka, berbagai warna yang ada akan tampak seperti gradasi abu-abu. Penderita kelainan ini juga berisiko mengalami sejumlah masalah mata, seperti mata malas, terlalu sensitif dengan cahaya, rabun jauh, dan gerakan mata tak terkendali.
4. Monokromasi Batang
Dalam dunia medis, monokromasi batang disebut sebagai akromatopsia. Gangguan ini terjadi ketika mata tidak memiliki sel kerucut sama sekali, atau dalam artian lain buta warna total. Pasien tidak akan melihat warna apapun, mengalami penurunan penglihatan, bahkan komplikasi.
Terapi Buta Warna untuk Kondisi Genetik dan Non-Genetik

Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang 100% efektif untuk menyembuhkan buta warna. Namun, ada beberapa opsi yang bisa diambil pasien untuk meringankan kondisi ini. Biasanya, pengobatan yang dilakukan berdasarkan penyebabnya, yaitu karena genetik dan non-genetik.
Terapi Buta Warna untuk Kondisi Genetik
Untuk pasien buta warna akibat faktor genetik, biasanya mereka akan beradaptasi dengan penglihatan. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:
1. Memanfaatkan Modifikasi Genetik
Salah satu penyebab buta warna adalah karena kelainan langka yang terjadi pada retina, atau sering disebut leber congenital amaurosis (LCA). Pasien yang mengalami buta warna karena penyebab ini dapat dilakukan terapi dengan modifikasi retina yang memakai teknik penggantian gen.
Meskipun demikian, hingga saat ini penggantian gen untuk buta warna masih dalam tahap studi dan perlu diteliti lebih lanjut. Nantinya, jenis terapi ini diharapkan dapat mengurangi kondisi buta warna pada pasien tertentu.
2. Menggunakan Aplikasi, Kacamata, atau Lensa Khusus
Saat ini, sudah banyak aplikasi khusus untuk meningkatkan persepsi warna. Umumnya, aplikasi ini dipakai untuk pasien buta warna parsial (buta warna sebagian) secara efektif. Jenis terapi ini akan membantu pasien agar dapat mengenal pola warna lebih baik.
Selain menggunakan aplikasi, pasien bisa memakai kacamata khusus untuk buta warna. Benda ini berguna agar melihat warna lebih banyak atau lebih cerah. Penderita buta warna juga dapat memakai lensa kontak yang cara kerjanya mirip dengan kacamata.
Kedua terapi ini memang tidak bisa menyembuhkan buta warna yang terjadi karena genetik. Namun, jenis terapi ini bisa dilakukan untuk membantu pasien agar dapat menjalani hidup dengan lebih baik.
Terapi Buta Warna untuk Kondisi Non-Genetik
Selain terjadi secara genetik, orang dengan buta warna dapat terjadi karena penyebab non-genetik. Untuk mengatasinya, biasanya dokter akan menyarankan untuk mengatasi penyebabnya.
Berikut beberapa terapi yang dapat dilakukan untuk mengatasi buta warna non-genetik:
1. Kecanduan Alkohol
Orang yang terlalu banyak mengonsumsi alkohol dan dilakukan secara rutin dapat berdampak pada penglihatan, seperti kehilangan warna. Sebuah riset menyebut, semakin banyak seseorang minum alkohol, kemungkinan terkena kelainan penglihatan warna akan meningkat.
Untuk mengatasi masalah ini, seseorang perlu berhenti mengonsumsi alkohol secara bertahap. Apabila kesulitan atau sudah berada di tahap kecanduan, pasien bisa berkonsultasi dengan dokter terkait.
2. Tuberkulosis
Pasien yang menderita tuberkulosis akan mendapatkan sejumlah obat, termasuk etambutol. Meskipun bermanfaat untuk melawan bakteri penyebab tuberkulosis, sayangnya obat ini dapat memengaruhi penglihatan kita.
Etambutol dapat memengaruhi persepsi warna merah-hijau secara signifikan. Kabar baiknya, kondisi “buta warna” sementara ini umumnya membaik beberapa bulan setelah pengobatan dihentikan.
3. Obat Phenytoin
Jenis obat ini umumnya diresepkan dokter untuk mengatasi kejang pada penderita epilepsi. Namun, salah satu efek samping phenytoin dapat membuat pasien mengalami gangguan penglihatan warna.
Bagi pasien yang mengonsumsi phenytoin, biasanya mereka butuh waktu hingga satu tahun setelah berhenti minum obat. Untuk lebih jelasnya, pasien bisa berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter.
4. Penyakit Kuning
Ketika pigmen kuning (bilirubin) menumpuk di dalam darah, seseorang akan mengalami penyakit kuning. Biasanya, penyakit ini ditandai dengan mata, kulit, dan selaput lendir yang menguning.
Tidak hanya membuat tubuh menguning, kadar bilirubin yang tinggi dapat memengaruhi penglihatan warna. Namun, kondisi ini dapat membaik seiring dengan pasien yang sembuh dari penyakit kuning.
5. Penyakit yang Memengaruhi Mata dan Saraf
Beberapa penyakit yang memengaruhi mata dan saraf, seperti ablasi retina, katarak, tumor otak, glaukoma, dan penyakit alzheimer ternyata dapat membuat mata kehilangan penglihatan warna.
Untuk beberapa penyakit ini, ada yang ditangani dengan operasi atau perawatan tertentu. Namun sayangnya, tindakan yang dilakukan biasanya tidak menjamin penglihatan warna menjadi pulih kembali.
6. Kekurangan Vitamin A
Seseorang yang kekurangan vitamin A dapat menyebabkan rabun senja, kesulitan membedakan warna, hingga kehilangan penglihatan. Makanya, Teman Mata bisa sedini mungkin mencegah kekurangan vitamin A.
Umumnya, dokter akan memberikan suplemen vitamin A dalam dosis tinggi untuk mengatasi buta warna. Untuk pengobatan, dokter akan memberikan 10.000 hingga 20.000 unit (IU) vitamin A per hari selama 2 bulan.
Nah, sekarang Teman Mata sudah tahu, kan, jenis buta warna sampai penanganannya? Kondisi buta warna memang tidak dapat disembuhkan secara total. Namun, pada beberapa kasus, seperti kekurangan vitamin A dapat dicegah sedini mungkin.
Makanya, penting banget buat menjaga asupan nutrisi untuk mata, terutama vitamin A. Nah, biar nutrisi mata tetap terpenuhi, kamu bisa rutin mengonsumsi suplemen khusus mata, seperti dari Eyebost.
Eyebost terbuat dari bahan alami pilihan yang mengandung vitamin A, vitamin C, vitamin E, lutein, dan zeaxanthin. Suplemen dari ekstrak bilbery, marigold, dan wortel ini bakal bantu dukung kesehatan matamu.
Sekarang, Eyebost sudah tersedia dalam bentuk cair maupun tablet, cocok buat kamu yang ingin vitamin praktis dengan rasa enak. Mau pandangan jernih dan fokus maksimal? Semua bisa bareng Eyebost!


