Mengenal Papiledema, Penyakit Mata Kronis yang Berpotensi Menyebabkan Kebutaan

Pernahkah Teman Mata mendengar penyakit mata papiledema? Sekilas, nama ini memang cukup asing di telinga, ya. Padahal, papiledema termasuk penyakit kronis yang mengancam penglihatan selain katarak, glaukoma, dan retinopati diabetik.

Nah, buat kamu yang ingin lebih tahu soal penyebab, gejala, hingga pengobatan dan pencegahannya, yuk simak artikel berikut ini!

Apa Itu Papiledema?

Papiledema merupakan pembengkakan saraf optik yang terjadi akibat peningkatan tekanan intrakranial. Akibatnya, penglihatan akan terganggu hingga mata menjadi kabur, gelap, atau mengalami penglihatan ganda.

Keadaan ini termasuk sebagai salah satu kondisi darurat medis dan dapat menyebabkan kebutaan sebagian maupun total. Meskipun kondisi ini cukup jarang terjadi, namun papiledema tidak bersifat keturunan.

Penyebab Papiledema

Penyebab Papiledema

Keadaan ini terjadi ketika ada peningkatan tekanan pada saraf optik dari otak dan cairan serebrospinal. Tekanan ini kemudian menyebabkan saraf membengkak saat memasuki bola mata di bagian diskus optik.

Ada berbagai kondisi medis serius yang memicu peningkatan tekanan intrakranial, yaitu:

  • Cedera kepala,
  • Tekanan darah sangat tinggi atau hipertensi maligna,
  • Peradangan pada otak atau jaringan di sekitarnya, seperti meningitis dan tumor otak,
  • Terjadi pembekuan darah di pembuluh vena yang ada di otak,
  • Anemia defisiensi besi,
  • Perdarahan di otak,
  • Kelainan pada tengkorak,
  • Hidrosefalus,
  • Hipertensi intrakranial idiopatik,
  • Memiliki lesi sumsum tulang belakang.

Selain itu, ada beberapa faktor yang membuat seseorang lebih berisiko terkena papiledema. Penyakit ini lebih umum terjadi pada wanita, berusia 20 hingga 44 tahun, dan cenderung mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

Gejala Papiledema

Gejala Papiledema

Sayangnya, tidak semua pasien yang menderita papiledema menunjukkan gejala atau disebut asimptomatik. Namun, sebagian pasien lainnya mengalami beberapa gejala, misalnya:

  • Sakit kepala yang lebih parah di pagi hari atau saat berbaring,
  • Mengalami gangguan penglihatan sementara. Biasanya, kondisi ini terjadi selama 5-15 detik ketika penglihatan menjadi abu-abu, kabur, atau gelap. Pasien umumnya mengalami ini ketika mengganti posisi tubuh.
  • Menderita penglihatan ganda (diplopia). Gangguan ini dapat terjadi ketika hipertensi intrakranial menyebabkan kelumpuhan saraf kranial yang mengganggu otot mata.
  • Merasakan mual dan muntah.
  • Muncul gejala gangguan neurologis, contohnya ada masalah dengan gerakan atau berpikir.
  • Nyeri, baik di salah satu maupun kedua mata.
  • Silau atau mata menjadi lebih sensitif terhadap cahaya.

Gejala yang dialami pasien pun punya durasi yang berbeda-beda. Ada yang hanya berlangsung selama beberapa menit, jam, bahkan ada gejala yang bertahan dalam waktu sangat lama.

Makanya, kalau Teman Mata termasuk orang yang berisiko dan mengalami gejala papiledema, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter spesialis mata, ya.

Tahapan, Komplikasi, dan Pengobatan Papiledema

Pengobatan Papiledema

Setelah berkonsultasi dengan dokter, nantinya mereka akan melakukan beberapa jenis pemeriksaan, seperti menggunakan oftalmoskop, tes ketepatan penglihatan, tes darah, hingga melakukan CT Scan dan MRI.

Ketika hasilnya sudah keluar, dokter akan menggolongkan tingkat keparahan penyakit ini dengan suatu sistem penilaian yang disebut skala Frisen. Setidaknya, ada lima tingkat keparahan papiledema, mulai dari papiledema sangat dini hingga parah.

Bukan cuma itu, tanpa mengobati penyebabnya, papiledema dapat menyebabkan komplikasi. 

Pasien dapat mengalami infeksi, pembentukan jaringan parut, hingga mengalami kehilangan penglihatan permanen.

Penyakit kronis ini juga dapat memicu gangguan neurologis selain di mata, seperti kejang atau masalah kognitif. Pasien dengan papiledema pun berpotensi mengalami sakit kepala kronis yang dapat mengganggu kualitas hidup.

Oleh karena itu, dokter akan melakukan pengobatan sesuai dengan penyebab penyakit ini. Untuk papiledema akibat hipertensi intrakranial, dokter akan meresepkan penghambat anhidrasi karbonat seperti asetazolamida.

Namun, ketika obat-obatan tidak bisa menyembuhkan penyakit ini, dokter menyarankan untuk melakukan operasi. Umumnya, operasi dilakukan untuk papiledema yang terjadi karena tumor, cedera kepala, infeksi, dan penyebab lainnya.

Sekarang, Teman Mata sudah tahu kalau papiledema termasuk penyakit kronis yang berbahaya bagi penglihatan. Makanya, sebelum terlambat, kita perlu menjaga kesehatan mata semaksimal mungkin untuk terhindar dari penyakit berbahaya bagi mata dan penglihatan.

Buat menjaga kesehatan mata, kamu bisa memulainya dengan memenuhi nutrisi sehari-hari untuk mata. Kamu bisa mengonsumsi vitamin A, vitamin C, vitamin E, lutein, dan zeaxanthin setiap hari.

Berbagai nutrisi ini bisa kamu dapatkan dari sayuran, buah, kacang-kacangan, protein hewani, maupun protein nabati. Tapi, kalau kamu mau multivitamin yang praktis dan bisa dikonsumsi setiap hari, Eyebost jawabannya!

Eyebost terbuat dari ekstrak buah bilberry, marigold, dan wortel yang diproses dengan teknologi modern. Ketiga bahan ini mengandung eye complex yang siap memenuhi nutrisi untuk menjaga mata dan penglihatan.

Apalagi, Eyebost terbuat dari bahan alami, sudah ada izin edar BPOM, dan punya sertifikat halal MUI. Jadi kamu nggak perlu takut lagi soal keamanan produk. Oh iya, Eyebost Essential bisa dikonsumsi mulai anak usia 2 tahun, lho!

Jadi, yuk jaga kesehatan mata secara rutin dengan minum Eyebost setiap hari!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top
Yuk pesan eyebost sekarang di eyebost.id agar mata makin sehat dan jernih
//
CS Anggie
Online
|
//
Konsultasi