Makan Wortel Sembuhkan Mata Minus? Ini 7 Mitos Kesehatan Mata yang Perlu Kamu Tahu

Banyak dari kita yang sering mendengar larangan duduk terlalu dekat dengan TV atau membaca di tempat redup bisa merusak mata selamanya. Namun, apakah semua โ€œnasihatโ€ yang kita dengar sejak kecil itu benar-benar fakta medis, atau justru hanya mitos belaka?

Di era digital ini, memisahkan fakta dari mitos kesehatan mata sangat penting biar kita nggak salah langkah dalam merawat penglihatan. Yuk, kita bongkar mitos kesehatan mata supaya kamu tahu mana yang benar-benar melindungi matamu dan mana yang cuma bikin khawatir!

Kenapa Mitos Seputar Mata Begitu Mudah Dipercaya dan Disebarkan?

Kamu pasti pernah bertanya, kenapa ya kita gampang banget percaya dan ikut menyebarkan mitos seputar mata? Ternyata, peristiwa seperti ini bisa dibahas dalam sudut pandang psikologi, lho!

Menurut teori model perilaku, paparan mitos atau informasi palsu (hoaks) cepat menyebar karena informasi tersebut erat dengan seseorang atau suatu kelompok. Bisa jadi, mitos yang ada sesuai dengan identitas pribadi atau norma sosial yang dipegang. 

Pada akhirnya, hoaks yang sesuai dengan apa yang kita percayai ini akan disebarkan melalui berbagai saluran, termasuk media sosial. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak mempercayainya?

Uniknya, meskipun ada kelompok yang tidak percaya, mereka juga akan โ€œmembagikanโ€ informasi palsu untuk tujuan tertentu. Biasanya, mereka melakukannya untuk menunjukkan afiliasi politik, merendahkan musuh, atau mendapatkan validasi sosial.

Jadi, baik kita percaya maupun tidak, akhirnya hoaks akan tetap menyebar dengan cepat. Makanya, mitos dan hoaks lebih banyak muncul di media sosial ketimbang media tradisional. Media berita arus utama biasanya harus melakukan verifikasi ketat sebelum membuat konten.

Sementara itu, media sosial masih minim bahkan hampir tidak ada pengawasan yang ketat. Terlebih, algoritma media sosial akan terus mendorong konten viral agar lebih banyak dilihat dan dibaca, tanpa tahu kebenarannya.

Mitos 1: Membaca dalam Gelap Merusak Mata Secara Permanen

Membaca dalam Gelap Merusak Mata Secara Permanen

Banyak orang yang percaya jika membaca dalam gelap dapat merusak mata. Namun, anggapan ini ternyata hanya mitos dan tidak terbukti secara ilmiah.

Fakta: Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Mata saat Membaca dalam Gelap?

Seorang dokter spesialis mata asal Amerika Serikat, Richard Gans mengatakan, cahaya redup memang membuat mata sulit fokus. Ditambah, kurangnya cahaya dan mata yang jarang berkedip akan membuat mata kering dalam jangka pendek.

Akibatnya, mata akan lebih mudah lelah dan kering karena tidak terlumasi dengan baik. Ketika hal ini sudah terjadi, mata akan terasa lelah, kering, pegal, berair, hingga muncul nyeri kepala.

Meskipun beberapa gejala ini membuat kita tidak nyaman, namun mata lelah dan kering akibat membaca tidak merusak struktur atau fungsi mata. Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa membaca dalam gelap membahayakan mata dalam jangka panjang.

Kebiasaan yang Benar-benar Bisa Merusak Mata

Ada berbagai kebiasaan yang dapat merusak mata yaitu:

  • Tidak memakai kacamata hitam di luar ruangan membuat sinar ultraviolet (UV) 100% masuk ke mata. Padahal, radiasi yang berlebihan dapat merusak jaringan yang ada di mata. Tak hanya itu, kebiasaan ini meningkatkan risiko terkena katarak hingga kanker mata.ย 
  • Orang yang pemilih dalam makanan (picky eater) berpotensi mengalami kekurangan nutrisi parah yang menyebabkan kebutaan. Kekurangan zat gizi tertentu, termasuk vitamin A dapat merusak saraf optik.
  • Merokok menyebabkan mata rentan iritasi dan kering. Namun, dalam jangka panjang, perokok berisiko mengalami katarak, degenerasi makula, hingga glaukoma. Hasil pembakaran tembakaunya dapat meningkatkan stres oksidatif yang memicu penyakit kronis pada mata.
  • Kurang olahraga menyebabkan fungsi mitokondria menurun lebih cepat. Selain itu, mata juga lebih rentan mengalami peradangan kronis. Apalagi, kebiasaan ini dapat menyebabkan diabetes dan hipertensi yang berbahaya bagi mata.
  • Sering menggosok mata membuat tekanan mekanis pada kornea. Kebiasaan ini dapat menyebabkan penipisan kornea dan perkembangan keratokonus, kondisi yang membuat kornea terdistorsi dan penglihatan menurun.
  • Kurang minum air putih bukan cuma bikin tubuh dehidrasi, tetapi juga merusak mata. Dehidrasi dapat mengganggu produksi air mata dan memicu sindrom mata kering dan iritasi.

Mitos 2: Mata Minus Bisa Sembuh Hanya dengan Makan Wortel

Teman Mata pasti sering mendengar kalau rutin makan wortel bisa menyembuhkan mata minus atau rabun jauh. Bahkan, buat kamu yang sudah punya mata minus, pasti orang tua akan menyarankan untuk banyak mengonsumsi sayuran jingga ini.

Fakta: Apa yang Wortel Benar-benar Lakukan untuk Mata?

Dokter spesialis mata dari Duke University Amerika Serikat, Jill Koury menyebut, wortel memang kaya vitamin A yang penting untuk kesehatan mata. Nutrisi ini dapat membantu menjaga kualitas penglihatan mata kita.

Selain vitamin A, wortel juga mengandung vitamin C dan vitamin E yang berperan sebagai antioksidan. Dua zat gizi ini memang bagus untuk mencegah penyakit mata akibat usia, seperti katarak dan degenerasi makula.

Namun, mengonsumsi wortel bukan berarti dapat meningkatkan kualitas penglihatan pada orang dengan mata minus maupun plus. Wortel hanya berperan sebagai sumber nutrisi yang membantu mencukupi angka kebutuhan gizi (AKG) harian. 

Nutrisi yang Tepat untuk Mendukung Kondisi Mata Minus

Walaupun tidak dapat menyembuhkan mata minus. Namun dengan nutrisi yang tepat, mata tetap sehat dan penglihatan terjaga. Berikut nutrisi yang tepat untuk mata minus:

  • Lutein dan Zeaxanthin adalah pigmen alami yang ada di makula manusia. Dua nutrisi ini berguna sebagai sunscreen alami yang dapat melindungi mata dari sinar biru (blue light).
  • Mirip dengan lutein dan zeaxanthin, omega-3 dalam jumlah tinggi terdapat dalam retina manusia. Senyawa ini membantu menjaga fungsi penglihatan, meningkatkan produksi air mata, dan mengurangi gejala mata kering.
  • Vitamin A berfungsi untuk menjaga sel-sel penangkap cahaya dan memungkinkan mata melihat dalam cahaya redup. Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan mata kering, rabun senja, hingga kehilangan penglihatan.
  • Memiliki sifat antioksidan yang kuat, vitamin C dapat melawan stres oksidatif akibat radikal bebas. Tidak hanya itu, zat gizi ini dapat menurunkan risiko terkena penyakit mata terkait usia contohnya katarak.
  • Vitamin E mampu melindungi retina yang memiliki konsentrasi asam lemak dalam jumlah tinggi. Di sisi lain, kekurangan vitamin E yang parah dapat menyebabkan degenerasi retina hingga kebutaan.

Mitos 3: Kacamata Membuat Ketergantungan dan Memperparah Minus

Kacamata Membuat Ketergantungan dan Memperparah MinusKacamata Membuat Ketergantungan dan Memperparah Minus

Apakah Teman Mata pernah mendengar anggapan yang bilang kalau memakai kacamata membuat ketergantungan? Terkadang, ada juga yang mengatakan kalau kacamata dapat memperparah mata minus.

Fakta: Peran Kacamata dalam Koreksi, Bukan Penyembuhan

Faktanya, kacamata memang tidak dapat menyembuhkan mata minus, mata plus, maupun silinder. Namun, penglihatan kita tidak akan melemah hanya karena menggunakan kacamata atau lensa kontak.

Kacamata, lensa kontak, atau lensa korektif lainnya merupakan alat yang berfungsi untuk mengoreksi penglihatan. Artinya, kacamata yang kita pakai akan mempermudah dan mempertajam penglihatan orang dengan gangguan refraktif.

Lalu, mengapa ukuran kacamata sering berubah bahkan bertambah? Nah, kalau soal ini, ukuran dari lensa korektif memang dapat berubah seiring waktu karena faktor usia, gaya hidup, maupun penyakit lainnya.

Oleh karena itu, agar penglihatan tidak semakin memburuk, kamu perlu memakai kacamata sesuai dengan resep dokter. Apabila ingin benar-benar sembuh dari mata minus, satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan bedah mikro, misalnya LASIK, LASEK, dan PRK.

Mitos 4: Terlalu Banyak Nonton TV Merusak Mata Secara Permanen

Saat masih kecil, kita pasti dilarang untuk terlalu banyak menonton televisi (TV). Alasannya tentu karena benda elektronik yang satu ini dapat menyebabkan kerusakan mata secara permanen.

Fakta: Perbedaan Kelelahan Mata vs Kerusakan Permanen

Nyatanya, terlalu banyak menonton TV ternyata tidak menyebabkan kerusakan mata secara permanen. Kasusnya kurang lebih sama ketika kita membaca di tempat yang redup maupun gelap.

Menonton televisi adalah salah satu aktivitas yang membutuhkan fokus mata intens. Hasilnya, mata akan lebih jarang berkedip, cepat lelah, dan akhirnya terasa kering. Dalam dunia medis, kelelahan akibat terlalu lama melihat layar disebut sebagai computer vision syndrome (CVS).

Untuk anak-anak, terlalu banyak menonton televisi dikaitkan dengan peningkatan risiko rabun jauh atau mata minus. Namun, orang dewasa yang terlalu banyak menonton televisi tidak berhubungan dengan risiko miopia.

Jadi, orang yang terlalu banyak menonton televisi biasanya terjadi kelelahan mata. Sementara itu, belum ada studi yang membahas soal kerusakan permanen pada mata akibat terlalu banyak melihat televisi.

Sementara itu, kerusakan permanen merupakan hilangnya fungsi penglihatan atau struktur bola mata yang tidak dapat dipulihkan secara medis. Beberapa kerusakan permanen pada mata biasanya diakibatkan oleh glaukoma, degenerasi makula, retinopati, dan ablasio retina.

Berbagai kondisi kronis dan akut ini tidak terjadi akibat terlalu banyak menonton televisi, melainkan komplikasi dari penyakit lain, cedera, atau trauma parah.

Mitos 5: Mata yang Masih Terasa Normal Tidak Perlu Diperiksa

Mata yang Masih Terasa Normal Tidak Perlu Diperiksa

Kalau mata sehat, banyak orang yang nggak periksa mata secara rutin. Mereka menganggap menganggap matanya baik-baik saja sehingga tidak perlu dicek secara berkala.

Fakta: Penyakit Mata yang Tidak Bergejala di Awal (Glaukoma, AMD)

Meskipun mata normal dan sehat, bukan berarti kamu mengabaikan cek mata rutin, ya. Soalnya, dengan cek mata rutin, kita dapat mendeteksi gangguan penglihatan dan mencegah penyakit kronis.

Masalahnya, penyakit kronis mata terkadang tidak menimbulkan gejala sama sekali, seperti glaukoma dan degenerasi makula terkait usia (AMD). Dua penyakit ini dapat menyebabkan kehilangan penglihatan secara permanen.

Selain itu, pemeriksaan mata juga penting dilakukan pada orang dengan riwayat penyakit kronis, contohnya diabetes, tekanan darah tinggi, atau masalah penglihatan lain. Jadi, walaupun saat ini masih sehat dan normal, bukan berarti kita terbebas dari potensi penyakit mata.

Jadwal Pemeriksaan Mata yang Dianjurkan per Kelompok Usia 

Nah, sekarang Teman Mata perlu tahu jadwal pemeriksaan mata yang dianjurkan sesuai usia. Berikut tabel penjelasannya:

UsiaWaktu untuk Cek Kesehatan Mata
Bayi dan balita (0-24 bulan)Pemeriksaan pertama dilakukan antara usia 6-9 bulan
Anak-anak sebelum usia sekolah (2-5 tahun)Satu kali antara usia 2-5 tahun
Anak-anak usia sekolah (6-19 tahun)Setiap tahun
Dewasa awal hingga menengah (20-39 tahun)Setiap 2-3 tahun sekali
Dewasa menengah hingga pra-lansia (40-64 tahun)Setiap 2 tahun sekali
Lansia (65 tahun ke atas)Setiap 1 tahun sekali

Buat Teman Mata yang memiliki gangguan refraksi yaitu mata minus, plus, atau silinder, cek mata dilakukan setiap tahun sekali. Lalu untuk pasien dengan penyakit mata kronis, cek kesehatan mata dilakukan sesuai dengan petunjuk dokter.

Mitos 6: Vitamin Mata yang Dibutuhkan Orang Tua

Kamu pasti pernah mendengar kalau vitamin mata hanya untuk orang tua atau pasien penyakit tertentu. Terlebih, orang-orang masih belum sadar akan pentingnya vitamin A untuk kesehatan mata.

Fakta: Siapa Saja yang Membutuhkan Suplemen Mata?

Semua orang mulai dari anak-anak hingga lanjut usia (lansia) boleh mengonsumsi suplemen mata setiap hari. Suplemen mata berguna untuk memenuhi nutrisi sekaligus menjaga kesehatan mata secara keseluruhan.

Namun, dalam kondisi tertentu, ada beberapa orang yang memerlukan suplemen mata yaitu pra-lansia hingga lansia, pekerja digital, ibu menyusui, dan orang yang sedang kekurangan nutrisi. 

Fase pra-lansia maupun lansia membutuhkan vitamin mata untuk melindungi mata dari risiko penyakit mata usia tua, seperti katarak dan degenerasi makula. Oleh karena itu, orang yang sedang dalam fase ini cocok mengonsumsi suplemen mata tinggi antioksidan.

Lalu untuk pekerja digital, mereka membutuhkan vitamin mata agar nutrisi yang dikonsumsi membantu menyaring cahaya biru (blue light) dari layar. Selain itu, vitamin mata yang tepat dapat membantu meredakan ketegangan mata dan menurunkan risiko mata kering.

Untuk ibu menyusui, terkadang ada mereka mengalami masalah mata, misalnya mata kering, penglihatan kabur, dan ketegangan mata. Kondisi-kondisi ini dapat diatasi dengan berbagai cara, termasuk konsumsi vitamin mata.

Nah, bagi orang yang kekurangan nutrisi, vitamin mata sangat penting untuk memenuhi angka kecukupan gizi (AKG) harian. Soalnya, kekurangan vitamin dan mineral dapat berdampak buruk bagi mata, seperti berisiko menderita rabun senja, mata kering, dan penyakit mata terkait usia.

Kebutuhan Nutrisi Mata di Berbagai Usia

Meskipun MiBost sudah menjelaskan orang-orang yang membutuhkan suplemen mata, namun semua orang harus mencukupi kebutuhan gizi harian. Berbagai zat gizi yang bagus untuk vitamin mata adalah vitamin (A, C, E), lutein, zeaxanthin, zinc, dan omega-3.

Soal nutrisi, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sudah mengatur AKG harian untuk vitamin, lemak, dan mineral berdasarkan usianya. Untuk lebih jelasnya, Teman Mata bisa mengakses tautan berikut: Pedoman AKG Harian Kemenkes RI.

Kebutuhannya bisa disesuaikan dengan jenis kelamin, usia, dan kondisi khusus misalnya ibu hamil dan menyusui. Berbagai faktor ini memengaruhi kebutuhan nutrisi mata untuk setiap orangnya.

Contohnya, anak di bawah usia lima tahun (balita) membutuhkan vitamin A 375-450 RE setiap harinya. Sementara itu, anak usia 7-15 tahun membutuhkan 500-600 RE vitamin A setiap hari.

Dengan pedoman dari Kemenkes RI, Teman Mata bisa menghitung AKG harian setiap nutrisinya. Jadi, kalau mau mengonsumsi suplemen mata, usahakan untuk melihat tabel kandungan vitamin dan mineral agar nutrisi tetap tercukupi.

Mitos 7: Mata Minus Tidak Boleh Olahraga atau Berenang

Mata Minus Tidak Boleh Olahraga atau Berenang

Buat Teman Mata yang punya mata minus, kamu pasti pernah mendengar kalau nggak boleh berolahraga atau berenang. Konon katanya, olahraga dan berenang bisa memperburuk kondisi mata.

Fakta: Olahraga dan Aktivitas Fisik untuk Penderita Miopia

Orang yang punya mata minus masih bisa berolahraga dengan aman tanpa takut minusnya bertambah. Justru, olahraga ringan termasuk renang dapat meningkatkan aliran darah dan meningkatkan kesehatan mata secara keseluruhan.

Bagi orang dengan miopia ringan (kurang dari -3.00 D) hingga miopia sedang (-3.00 D hingga -6.00 D), pasien masih bisa melakukan semua aktivitas olahraga. Namun, untuk orang yang memiliki miopia berat (di atas -6.00 D), ada beberapa aktivitas yang sebaiknya dihindari.

Orang dengan miopia berat disarankan untuk tidak melakukan olahraga angkat beban, yoga dengan posisi terbalik, menyelam (diving), dan snorkeling. Secara umum, olahraga ini dihindari karena dapat berisiko bagi orang dengan miopia berat.

Aktivitas angkat beban dan yoga dengan posisi terbalik dapat meningkatkan tekanan intraokular secara drastis. Apabila dilakukan dalam jangka waktu panjang, kegiatan ini dapat berisiko merusak saraf optik. 

Sementara itu, ketika menyelam, tekanan lingkungan akan lebih tinggi daripada ketika di darat. Kondisi ini dapat meningkatkan tekanan bola mata, berisiko merusak saraf optik, hingga meningkatkan potensi terkena glaukoma.

Agar lebih aman, sebaiknya pasien dengan miopi berat melakukan olahraga ringan, seperti jalan kaki, bersepeda, renang, dan jogging. Jika rutin melakukan tiga olahraga ini, tekanan intraokular menurun dan aliran darah ke retina maupun saraf optik meningkat.

Cara Memfilter Informasi Kesehatan Mata yang Beredar di Internet

Setelah tahu apa saja mitos seputar mata, sekarang kamu harus lebih jeli untuk menyaring informasi-informasi yang beredar dari internet dan sumber lain. Nah, biar lebih gampang menyaring informasi, yuk ikuti tips berikut ini:

1. Cek Sumber

Langkah awal yang bisa kamu lakukan adalah periksa sumber informasi. Seringkali, kita mengabaikan langkah penting ini karena banyak informasi kesehatan yang dikemas seolah-olah seperti fakta.

Pastikan informasi kesehatan yang kamu dapatkan berasal dari sumber resmi dan terpercaya seperti Kementerian Kesehatan (Kemenkes), WHO, jurnal ilmiah, atau lembaga kesehatan lainnya. Berbagai sumber ini memiliki kredibilitas yang tinggi untuk informasi kesehatan.

2. Periksa Seluruh Informasi

Salah satu ciri hoaks yang beredar di internet adalah berupa pesan berantai. Biasanya, pesan seperti ini sudah disebarkan berkali-kali melalui berbagai saluran dan media sosial, seperti chat maupun unggahan.

Selain itu, hoaks sering diakhiri dengan perintah untuk menyebarkan pesan, judul yang provokatif, janji sembuh instan, dan banyak tulisan dengan kesalahan ejaan. Jadi, Teman Mata harus waspada dengan memeriksa seluruh informasi sebelum dibagikan kepada orang lain.

3. Bandingkan Informasi

Sebelum membagikannya, coba cari informasi serupa dengan yang diterima. Jika bukan mitos atau hoaks, informasinya akan muncul dari beberapa sumber kesehatan terpercaya seperti yang MiBost sebutkan.

Kalau tidak ada informasi yang serupa, kemungkinan besar informasi yang kamu dapatkan adalah mitos. Sebaliknya, kalau ada informasi serupa, baca lagi secara teliti karena bisa jadi informasinya fakta namun sering disalah artikan (misleading).

4. Jangan Langsung Sebarkan

Judul yang provokatif terkadang membuat kita emosi sesaat dan menyebarkannya. Cara ini memang sering dipakai oleh penyebar hoaks agar penyebarannya semakin masif. Jadi, mereka memang ingin kita terpancing agar informasinya semakin menyebar.

Kalau Teman Mata mendapat informasi seputar kesehatan mata, jangan buru-buru membagikan informasi sebelum memastikan kebenarannya. Jika sudah emosi, sebaiknya tahan diri dulu dan selalu ingat untuk memeriksa informasi sebelum menyebarkannya.

5. Gunakan Akal Sehat

Selain memancing emosi dan bernada provokasi, ciri hoaks lainnya adalah informasi yang terdengar tidak masuk akal, aneh, mustahil, atau terlalu bagus menjadi kenyataan. Kalau ketemu informasi seperti ini, sebaiknya hati-hati, ya!

Selalu gunakan akal sehat dan redakan dulu emosi setelah membaca. Setelah semuanya netral, Teman Mata bisa melakukan tips pertama hingga keempat yang MiBost berikan sebelumnya.

Nutrisi Kesehatan Mata Bersama Vitamin Mata Eyebost

Nutrisi Kesehatan Mata Bersama Vitamin Mata Eyebost

Di tengah gempuran informasi di media sosial, kita sering banget nemu tips kesehatan mata yang kedengarannya meyakinkan tapi ternyata cuma mitos. Mulai dari kebiasaan membaca sambil tiduran sampai terlalu banyak nonton TV bisa bikin mata rusak permanen.

Kalau ditelan mentah-mentah, mitos-mitos ini bisa bikin kita salah kaprah dalam merawat mata. Maka dari itu, penting banget buat kita untuk selalu cross-check dan lebih selektif menyaring informasi.

Jangan mudah tergiur dengan trik cepat yang belum jelas sumbernya. Ingat, mata adalah salah satu aset paling berharga, jadi perawatannya pun nggak boleh modal ikut-ikutan atau sekadar “katanya”.

Daripada tebak-tebak buah manggis dengan tips yang belum pasti, langkah paling aman dan efektif adalah dengan menutrisi mata langsung dari dalam. Ketika mata lelah akibat seharian menatap layar gadget, nutrisi yang tepat bakal jadi โ€œbentengโ€ untuk menjaga penglihatan/

Nah, soal nutrisi yang praktis dan terpercaya, vitamin mata Eyebost juaranya! Suplemen ini diformulasikan khusus untuk memenuhi kebutuhan vitamin mata kamu setiap hari. Kamu nggak perlu khawatir lagi kekurangan asupan penting untuk indra penglihatanmu.

Yuk, mulai investasi kebaikan untuk matamu dari sekarang!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Assistant Avatar
CS Anggie
Online
Halo! ๐Ÿ‘‹ Aku Mibost. Ada yang bisa saya bantu tentang vitamin mata Eyebost?

Silakan isi data diri untuk memulai konsultasi dengan AI Chatbot kami:

Scroll to Top