Kesehatan

Waspadai 15+ Penyebab Episkleritis yang Didominasi oleh Penyakit Autoimun

/

by Shaffi Kareem


Sklera mata merupakan bagian mata berwarna putih yang berfungsi untuk mempertahankan bentuk bola mata. Selain itu, sklera pun menjadi bagian mata yang sangat mudah dikenali karena memiliki ciri khas yaitu berwarna putih.

Saat melihat dengan mata telanjang, mungkin kita tidak akan menyadari bahwa sebetulnya sklera terdiri dari beberapa bagian, salah satunya adalah episklera. Sebab letaknya yang paling luar, bagian ini lebih rentan terkena gangguan mata episkelritis.

Apa itu episkleritis? Gangguan mata ini adalah suatu kondisi di mana terjadi peradangan pada episklera yang menyebabkan mata menjadi merah dan teriritasi.

Kondisi ini masih asing di telinga kita sehingga wawasan akan gagguan mata ini masih perlu disebarluaskan. Untuk informasi lebih lengakap tentang episkleritis, kita ulas bersama, yuk!

Mengenal Penyakit Episkleritis

Tahukah kalian apa itu episkleritis? Dengan istilah medis episceliritis, episklera adalah suatu peradangan atau inflamasi yang terjadi pada bagian sklera bernama episklera. Kondisi ini menyebabkan mata menjadi merah dan teriritasi.

Ingin Donor Mata? Ketahui Yuk Prosedurnya, Simak Selengkapnya!

Episkleritis sekilas mirip dengan mata merah pada umumnya, namun gangguan mata ini tidak mengeluarkan kotoran mata atau belek maupun cairan eksudat lain seperti nanah. Pada umumnya, gejala episkleritis akan mereda dengan sendirinya tanpa perawatan khusus.

Meskipun demikian, kamu harus waspada apabila peradangan terjadi semakin parah hingga menyebabkan rasa nyeri dan perih yang teramat sangat sebab kondisi tersebut dapat mengarah pada terjadinya gangguan mata skleritis.

Terjadinya episkleritis seringkali dikaitka dengan berbagai kondisi kesehatan seperti penyakit vaskular kolagen sistemik, penyakit autoimun, dan jenis-jenis infeksi tertentu.

Oleh karenanya, kamu perlu memeriksakan diri ke dokter spesialis mata untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Mengetahui Gejala Episkleritis

Perlu kamu tahu bahwa episkleritis terbagi menjadi dua jenis yaitu simpel dan nodular. Dilansir dari laman Healthline, episkleritis simpel ditandai dengan kemerahan pada pembuluh darah di sklera dan hampir tidak menimbulkan nyeri.

Sementara itu, episkleritis nodular ditandai dengan pembuluh darah yang berwarna kemerahan dan agak menonjol dan muncul rasa perih pada mata.

Bagaimanapun, kedua jenis tersebut memiliki gejala yang hampir serupa, di antaranya adalah:

  • Mata merah pada bagian sklera
  • Fotofobia atau sensitif terhadap cahaya
  • Sensasi panas pada mata
  • Sensasi berpasir pada mata

Apakah Penyebab Episkleritis?

Kebanyakan kasus episkleritis tidak diketahui penyebab pastinya atau yang biasa disebut juga dengan idiopatik.

Kendati demikian, sekitar 26-36% pasien episkleritis memiliki keterkaitan dengan penyakit sistemik yang memicu gejala dan perkembangannya.

Dilansir dari laman National Institutes of Health, ada beberapa penyakit yang menjadi faktor penyebab episkleritis muncul, antara lain seperti:

1. Rheumatoid Arthritis

Rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun yang terjadi ketika sel imun menyerang jaringan tubuh yang sehat.

Biasanya, penyakit ini menimbulkan ketidaknyamanan berupa pembengkakan pada sendi pada tangan, pergelangan tangan, dan lutut.

RA (singkatan rheumatoid arthritis) terjadi ketika lapisan sendi mengalami peradangan dan pembengkakan.

Kondsi inilah yang akan mengakibatkan area sendi terasa hangat apabila disentuh. Di samping itu, rheumatoid arthritis akan berimbas juga pada masalah kesehatan pada organ tubuh yang lain termasuk mata, misalnya episkelritis.

2. Penyakit Crohn

Crohn’s disease atau penyakit Crohn adalah penyakit autoimun yang termasuk dalam salah satu jenis penyakit radang usus di mana terjadi pembengkakan jaringan saluran pencernaan akibat adanya peradangan atau inflamasi. Umumnya, kondisi ini akan mengakibatkan nyeri perut, diare parah, kelelahan, penurunan berat badan dan gizi buruk. Selain itu, penyakit ini juga dapat mengakibatkan komplikasi berupa episkleritis yang terjadi pada bagian sklera mata

3. Ulcerative Colitis

Episkleritis dapat disebabkan oleh penyakit autoimun ulcerative colitis. Penyakit ini didefinisikan sebagai suatu penyakit jangka panjang di mana usus besar dan rektum mengalami peradangan. Kondisi ini menyerang lapisan usus besar sehingga menyebabkan keluarnya darah dan nanah.

Ulcerative colitis ditandai dengan frekuensi buang air besar yang sering, diare berulang (disertai darah, lendir atau nanah), serta sakit perut.

Selain berdampak pada kesehatan mata, ulcerative colitis menyebabkan kelelahan dan kehilangan selera makan.

4. Psoriasis Arthritis

Psoriosis arthritis merupakan salah satu jenis arthritis yang biasanya menyerang penderita psoriasis.

Apa itu psoriasis?

Jadi, psoriasis adalah penyakit kulit yang menyebabkan ruam gatal, muncul bercak seperti sisik di kulit.

Sayangnya, psoriasis arthritis (PA) dapat mengakibatkan komplikasi dan mempengaruhi kesehatan mata yaitu episkleritis yang ditandai dengan mata merah, gatal, kering, serta munculnya sensasi berpasir pada mata.

5. Systemic Lupus Erythematosus

Systemic lupus erythematous (SLE) adalah penyakit autoimun yang terjadi ketika sistem imun menyerang jaringan sehat dan menyebabkan peradangan yang tersebar ke berbagai organ tubuh seperti kulit, otak, paru-paru, sendi, ginjal, mata, dan sebagainya.

SLE merupakan jenis lupus yang paling umum terjadi. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa jenis lupus yang satu ini berpotensi menyebar ke mata. SLE menyebabkan inflamasi pada bagian sklera yaitu episkleritis.

6. Reactive Arthritis

Reactive arthritis adalah salah satu penyebab episkleritis. Penyakit ini diartikan sebagai nyeri dan pembengkakan sendir yang dipicu oleh infeksi pada bagian tubuh yang lain seperti usus, saluran kencing, dan alat kelamin.

Meskipun lebih sering menyerang lutut dan kaki, penyakit reactive arthritis dapat berimbas juga pada kesehatan kulit, uretra, dan mata.

Dilansir dari laman Helathline, dampak pada mata akibat reactive arthritis yaitu timbulnya mata merah dan iritasi.

7. Relapsing Polychondritis

Penyakit autoimun relapsing polychondritis terjadi ketika sistem imun tubuh menyerang jaringan sehat pada tulang rawan (cartilage) dan jaringan lainnya.

Penyakit ini menyebabkan terjadinya peradangan pada organ yang terjangkit dan terjadi secara berulang.

Dalam sebuah studi berjudul Ocular Manifestation of Relapsing Polychndritis disebutkan bahwa replapsing polychondritis (RPC) merupakan gejala umum yang berkaitan dengan beberapa jenis gangguan mata, seperti episkleritis.

8. Ankylosing Spondylitis

Ankylosing spondylitis atau spondilitis ankilosa merupakan peradangan yang terjadi pada sendi, khususnya sendi tulang belakang. Penyakit ini merupakan penyakit kronis yang dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Pada kasus spondilitis ankilosa, episkleritis biasanya muncul di akhir masa peradangan mata. Bisa dikatakan bahwa apabila kamu mengalami episkleritis, itu tandanya bahwa iritasi mata berada dalam proses penyembuhan.

9. Polyarteritis Nodosa

Penyakit polyarteitis nodosa adalah peradangan atau kerusakan yang terjadi pada dinding pembuluh darah akibat kelainan pada sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini berefek pada terganggunya aliran darah pada hampir seluruh organ tubuh.

Dalam derajat keparahan sedang. Polyarteritis nodosa (PAN) menyebabkan dampak yang kurang baik untuk mata.

Menurut American Academy of Ophlthalmology disebutkan bahwa PAN memicu terjadinya episkleritis, skleritis, keratitis, dan lain-lain.

10. Penyakit Behcet

Penyakit Behcet tergolong penyakit langka yang ditandai dengan adanya inflamasi pembuluh darah di seluruh tubuh.

Gejala yang ditimbulkan mungkin terlihat tidak berkaitan dengan penyakit ini pada awalnya, termasuk di dalamnya peradangan mata.

Peradangan atau inflamasi mata akibat penyakit Behcet dapat berupa episkleritis seperti yang disebutkan dalam sebuah studi berjudul Ocular Manifestations of Behcet’s Disease.

11. Sindrom Cogan

Bukan Cowok-Ganteng, sindrom Cogan merupakan salah satu penyakit autoimun yang ditandai dengan inflamasi yang menyerang sistem pendengaran dan penglihatan manusia. Penyakit mata ini banyak menyerang young-adults (30 tahun-an).

Tidak hanya mengakibatkan episkleritis, sindrom Cogan dengan derajat keparahan tinggi dapat menyebabkan kebutaan bagi penderitanya.

12. Granulomatosis Dengan Poliangiitis

Granulomatosis dengan poliangiitis merupakan penyakit langka yang menyebabkan peradangan pada pembuluh darah sinus, hidung, tenggorokan, paru-paru, dan ginjal. Sebelumnya, penyakit ini disebut dengan granulomatosis Wagener.

Dalam sebuah studi berjudul Granulomatosis with Polyangiitis (GPA)- A Multidisciplinary Approach of A Case Report disebutkan bahwa gangguan mata merupakan gejala yang umum terjadi pada penderitanya, termasuk episkleritis.

13. Penyakit Lyme

Selain penyakit autoimun, episcleitis disebabkan oleh infeksi bakteri seperti pada penyakit Lyme. Penyakit ini terjadi akibat infeksi bakteri Borrelia burgdorferi dan Borrelia mayonii. Kebanyakan kasus ini terjadi akibat gigitan kutu yang terinfeksi bakteri tersebut.

However, ada beberapa studi yang telah menjelaskan perihal episkleritis yang menjadi gejala pada penyakit Lyme. Salah satu studi tersebut berjudul Episcleritis Associated with Lyme Disease.

14. Penyakit Cakaran Kucing

Penyakit cakaran kucing (cat scratch disease) merupakan infeksi bakteri yang diakibatkan oleh cakaran kucing.

Penularan bakteri dapat berupa jilatan kucing pada luka seseorang, atau gigitan serta cakaran kucing yang menyebabkan luka terbuka sebagai tempat masuknya bakteri.

Nyatanya, cat scratch disease berkaitan erat dengan episcleritis. Dalam sebuah studi berjudul Episcleritis dan Scleritis dihasilkan bahwa dari 94 dan 85 pasien dengan episcleritis, sebanyak 1-6% pasien berkaitan dengan infeksi bakteri, salah satunya penyakit cakaran kucing.

15. Sifilis

Sifilis merupakan penyakit menular seksual yang diakibatkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum yang kebanyakan kasusnya disebarkan melalui kontak seksual.

Penyakit sifilis atau raja singa dapat menyebabkan kerusakan hati, otak, dan organ tubuh lain bahkan mengancam nyawa apabila tidak diobati.

Selain itu, sifilis berkaitan dengan terjadinya episcleritis. Meskipun kasusnya cenderung sedikit, episkleritis biasanya muncul pada sifilis sekunder atau fase lanjut.

16. Virus herpes

Penyebab episkleritis lainnya adalah infeksi virur herpes bernama herpes simplex virus (HSV) yang ditularkan melalui kontak antar kulit maupun aktivitas seksual.

Infeksi oleh virus herpes tidak selalu bergejala, namun sekalinya menginfeksi, virus ini dapat memicu gangguan mata.

Dalam sebuah studi berjudul Recurren Presumed Herpes Simplex Keratitis and Episcleriis in Keratosis Follicularis (Darier’s Disease) disebutkan bahwa sekitar 30% kasus episcleritis berkaitan dengan penyakit sistemik seperti infeksi herpes.

Apakah Episkleritis Berbahaya?

Mungkin sebagian dari kamu bertanya-tanya apakah gangguan mata ini berbahaya. Kamu dapat bernapas lega karena episkleritis tidak berbahaya.

Bahkan, gejala-gejalanya akan hilang dengan sendirinya dalam hitungan hari tanpa penanganan khusus.

Meskipun demikian, kita patut waspada apabila kondisi peradangan kian parah sebab episcleritis dapat menjadi tanda adanya penyakit autoimun atau infeksi bakteri pada tubuh.

Periksakanlah ke dokter spesialis mata apabila episcleritis tidak kunjung membaik.

Bagaimana Cara Mengobati Episkleritis?

Pengobatan dilakukan dengan memperhatikan penyebab dan derajat keparahannya. Episkleritis ringan dapat sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu satu minggu hingga 10 hari.

Namun bukan berarti bahwa dapat dibiarkan begitu saja. Adapun beberapa cara mengobati episcleritis dari mulai cara mandiri hingga medis.

Ketahui Obat Episkleritis:

  • Kompres dingin
  • Menggunakan kacamata hitam di luar ruangan
  • Tetes mata kortikosteroid
  • Tetes mata air mata buatan
  • Nonsteroidal anti-inflammantory drug (NSAID), misalnya ibuprofen
  • Melakukan pengobatan sesuai dengan penyebab peradangan
  1. Apakah Itu Episkleritis?

    Episkleritis adalah kondisi terjadinya peradangan di bagian episklera, merupakan lapisan transparan yang berfungsi sebagai pelapis bagian putih dari mata atau sklera.

  2. Apakah Episkleritis Bisa Sembuh?

    Episkleritis dapat muncul kembali, gangguan ini umumnya dapat sembuh tanpa pengobatan selama 2 hingga 21 hari.

Saat kamu dalam proses pengobatan episkleritis, cobalah imbangi juga dengan pola hidup sehat mulai dari mengonsumsi makanan sehat dan bergizi tinggi, memperbanyak air putih, berolahraga ringan setiap hari, istirahat cukup, serta bantulah dengan mengonsumsi vitamin mata seperti Eyebost.

Kandungan vitamin A, C, antioksidan, senyawa lutein, dan betakaroten yang terdapat di dalam ekstrak wortel, bilberry, bunga marigold, dan madu asli dapat meredakan gejala inflamasi pada mata akibat episkleritis, lho!

Jadi, bagi kalian yang menderita episkleritis atau ingin memelihara kesehatan mata setiap hari, konsumsilah Eyebost secara rutin untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Ingat mata, ingat Eyebost!


Share on:

ISFJ type of human.

Tinggalkan komentar

logo eyebost

Eyebost adalah vitamin mata alami yang diracik menggunakan bahan pilihan terbaik, eyebost membuat mata jadi jernih.

Kontak Kami

eyebostofficial@gmail.com

+6281327850411

Jl. Raya Mayjen Sungkono No.KM 5, Dusun 1, Blater, Kec. Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah 53371

Jam Pelayanan

Senin – Jum'at: 08.00 am – 16.00 pm

Sabtu: 08.00 am – 14.00 pm

Minggu: Slow Respon

Yuk pesan eyebost sekarang di eyebost.id agar mata makin sehat dan jernih
//
CS Kamel
Online
|
//
Konsultasi